INFOPBG.COM, Purbalingga - Pemerintah Kabupaten Purbalingga menggelar Upacara Pahargyan Agung dalam rangka memperingati Hari Jadi ke-195 Kabupaten Purbalingga di Pendapa Dipokusumo, Kamis (18/12/2025). Upacara adat tersebut berlangsung khidmat dan sarat makna, dengan nuansa tradisi Jawa yang kental sebagai wujud penghormatan terhadap sejarah dan kearifan lokal.
Rangkaian prosesi Pahargyan Agung dilaksanakan secara penuh penghormatan, mencerminkan rasa syukur atas perjalanan panjang Kabupaten Purbalingga sekaligus pengingat akan nilai-nilai luhur yang diwariskan para pendahulu. Meski tetap menjaga esensi adat, penyelenggaraan Pahargyan Agung tahun ini menghadirkan sejumlah pembaruan dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.
Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Purbalingga, Wasis Andri Wibowo, menjelaskan bahwa perbedaan tersebut hanya menyentuh pada aspek teknis dan penyajian acara, tanpa mengubah makna utama dari upacara adat Pahargyan Agung.
“Tahun ini memang ada penyesuaian. Pahargyan Agung tidak dilanjutkan dengan Kirab Pusaka dan Manggala Praja, karena rangkaian kirab akan digabung dalam kirab budaya yang dijadwalkan pada Sabtu, 20 Desember 2025,” jelasnya.
Dari sisi kesenian, Pahargyan Agung tahun ini menampilkan musik gamelan secara langsung yang dibawakan oleh gabungan pengrawit asal Purbalingga. Sajian musikal tersebut dikemas lebih variatif dengan memadukan gending tradisional dan lagu-lagu perjuangan nasional.
“Selain gending khas Pahargyan, kami juga menghadirkan lagu-lagu perjuangan seperti Satu Nusa Satu Bangsa dan Indonesia Pusaka dalam balutan gamelan. Ini menjadi upaya menumbuhkan semangat nasionalisme sekaligus melestarikan tradisi karawitan,” ungkap Wasis.
Gending perjuangan tersebut diperdengarkan pada awal rangkaian acara, sementara pada bagian akhir disajikan gending-gending ringan sebagai penutup dan hiburan bagi tamu undangan.
Selain musik, Pahargyan Agung juga menampilkan dua tarian utama. Tari Gambyong Pareanom dibawakan oleh gabungan penari dari berbagai sanggar seni di Purbalingga, yang merepresentasikan nilai kebersamaan dan sinergi antar pelaku seni daerah.
“Tari Gambyong ini melambangkan harmoni dan kerja sama para seniman lokal dalam menjaga kesenian tradisional Purbalingga,” katanya.
Tarian kedua adalah Tari Bambangan Cakil, yang dikenal dengan karakter gerak energik dan dinamis. Tarian ini melibatkan kolaborasi sejumlah sanggar seni, antara lain Sanggar Sekar Priang, Sekar Jagad, Mahardika, Suryadininggar, hingga Puribeksa.
“Gambyong menggambarkan kelembutan, sedangkan Bambangan Cakil penuh semangat. Perpaduan keduanya kami pilih untuk memperkaya suasana menjelang penutupan acara,” jelasnya.
Penyesuaian juga dilakukan pada susunan tata acara. Jika pada tahun-tahun sebelumnya pembacaan ringkasan sejarah Purbalingga dilakukan sebelum kepala daerah memasuki pendopo, tahun ini pembacaan sejarah dilaksanakan setelah Bupati beserta rombongan berada di sasana pahargyan.
“Perubahan hanya pada alur acara, namun tidak mengubah substansi. Inti dari Pahargyan Agung tetap berada pada prosesi Lung Tinampi Pusaka,” tegas Wasis.
Prosesi Lung Tinampi Pusaka berupa penyerahan simbol pusaka berupa songsong dan tombak menjadi momen utama dalam Pahargyan Agung. Ritual ini melambangkan penyerahan amanah kekuasaan dari rakyat kepada Bupati sebagai kepala daerah, yang diwakili oleh Ketua DPRD.
“Filosofinya adalah mandat dari rakyat kepada pemimpin daerah untuk menjalankan pemerintahan. Pakem ini tetap dijaga dan tidak mengalami perubahan,” imbuhnya.
Hal lain yang menjadi pembeda pada penyelenggaraan tahun ini adalah seluruh pengisi acara berasal dari seniman lokal Purbalingga. Tidak ada keterlibatan seniman dari luar daerah sebagaimana tahun-tahun sebelumnya.
“Ini merupakan bentuk komitmen kami untuk memberikan ruang dan apresiasi kepada seniman lokal. Pemerintah daerah harus hadir dalam menguatkan ekosistem seni dan budaya di Purbalingga,” pungkas Wasis.

