INFOPBG.COM, PURBALINGGA - Di sebuah rumah sederhana di Dusun Melung, Desa Larangan, Kecamatan Pengadegan, suara mesin bor dan amplas terdengar hampir setiap hari. Dari ruang kerja yang tidak terlalu luas itulah, karya bernilai tinggi lahir melalui ketelatenan seorang pemuda bernama Yogi Sutrisno, pendiri brand jam tangan kayu Halba Indonesia.
Karyanya kini tidak hanya dikenal di pasar dalam negeri, tetapi juga telah menembus pasar ekspor hingga Singapura dan India.
Berawal dari Rasa Penasaran Terhadap Tren Bandung
Perjalanan Yogi menuju industri jam tangan kayu dimulai pada 2017, ketika seorang temannya mengabarkan bahwa aksesori bernuansa alam sedang menjadi tren di Bandung. Informasi tersebut membangkitkan rasa penasarannya.
“Waktu itu saya melihat tren jam kayu sedang naik dan belum banyak pemain. Dari situ saya berpikir mungkin ada peluang jika dikembangkan,” tutur Yogi, Minggu (30/11/2025).
Meski tidak memiliki latar belakang pembuatan jam, ia mantap mencoba.
Belajar dari Nol hingga Menghadapi Keraguan Konsumen
Yogi mempelajari teknik pertukangan secara otodidak selama lebih dari satu tahun. Ia berguru kepada teman pengrajin dan melakukan banyak uji coba sebelum akhirnya meluncurkan produk perdana pada 2019.
Tantangan langsung datang dari pasar—bukan hanya karena situasi pandemi, tetapi juga karena kekhawatiran konsumen atas ketahanan kayu sebagai material jam tangan.
“Kebanyakan orang ragu, takut patah atau tidak awet karena berbahan kayu,” ungkapnya.
Untuk menjawab keraguan itu, Yogi berfokus pada kualitas bahan. Ia menggunakan kayu Sonokeling dan Mapel, yang memiliki serat kuat dan estetik—dua karakter yang membuat Halba Indonesia mulai mendapat tempat di hati konsumen.
Penjualan Online Jadi Kunci Tembus Pasar Global
Strategi penjualan berbasis daring menjadi langkah penentu. Yogi memasarkan produknya melalui platform e-commerce dan media sosial untuk menjangkau konsumen lebih luas. Perlahan namun pasti, pesanan datang dari berbagai kota besar di Indonesia, hingga kemudian merambah pasar mancanegara.
Saat ini, omzet Halba Indonesia tercatat stabil di kisaran Rp 30–40 juta per bulan.
Usaha yang Tumbuh dari Desa
Keberhasilan Yogi menunjukkan bahwa produk kreatif karya anak daerah memiliki peluang bersaing di tingkat global jika dikelola dengan serius. Di balik dentingan mesin yang terus menyala, Yogi berharap semakin banyak pemuda desa percaya diri mengembangkan kerajinan lokal.
“Kalau kita fokus, belajar terus, dan tidak takut mencoba, peluang itu selalu ada,” ucapnya.
sumber https://banyumas.tribunnews.com/features/85214/berawal-iseng-lihat-tren-bandung-pemuda-purbalingga-sukses-ekspor-jam-tangan-kayu-ke-singapura

