INFOPBG.COM, PURBALINGGA - Anjloknya harga singkong dalam beberapa bulan terakhir membuat banyak petani di Kabupaten Purbalingga semakin tertekan. Namun di tengah keterpurukan itu, program perluasan areal tanam (ekstensifikasi) tebu dari Kementerian Pertanian memberi angin segar. Komoditas tebu dinilai menawarkan nilai ekonomi yang jauh lebih stabil dan menguntungkan dibandingkan singkong.
Harga singkong di tingkat pabrik kini hanya sekitar Rp520 per kilogram, sementara petani menerima sekitar Rp200 per kilogram. Kondisi tersebut mendorong petani mulai mempertimbangkan peralihan ke komoditas baru yang lebih menjanjikan.
Pemerintah pusat pun mendorong pemanfaatan lahan singkong di wilayah-wilayah potensial, terutama di Kecamatan Kejobong dan Pengadegan, untuk ditanami tebu.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana pada Dinas Pertanian Purbalingga, Hafidhah Khusniyati, menyebutkan bahwa potensi lahan yang dapat dialihkan terbilang besar.
“Di Kejobong ada sekitar 569 hektare, dan di Pengadegan sekitar 590 hektare. Itu lahan singkong yang memungkinkan dialihkan ke tebu,” ujarnya.
Bantuan Pemerintah Capai Rp14,5 Juta per Hektare
Program ekstensifikasi tebu ini bukan sekadar imbauan. Pemerintah pusat menyiapkan paket dukungan yang cukup besar, mulai dari bantuan 60 ribu benih mata tunas per hektare hingga bantuan pengolahan lahan sebesar Rp3,6 juta. Total bantuan jika dihitung mencapai sekitar Rp14,5 juta per hektare.
Padahal, kebutuhan biaya produksi tebu per hektare bisa mencapai Rp30 juta. Dengan demikian, beban petani berkurang hampir setengahnya.
Menurut Hafidhah, tahun pertama memang menjadi masa paling berat karena petani harus fokus pada pembibitan dan pengolahan lahan. Namun beban itu menjadi jauh lebih ringan pada tahun-tahun berikutnya.
“Tahun kedua sampai keempat petani tidak perlu membeli bibit lagi, hanya pemupukan dan perawatan. Baru tahun kelima bibit harus diperbarui,” jelasnya.
Harga Dijamin, Pabrik Gula Siap Menampung Hasil Panen
Salah satu kekhawatiran terbesar petani adalah soal harga tebu dan kepastian pembelian. Pengalaman masa lalu ketika pabrik gula tidak mampu menyerap seluruh panen masih menjadi trauma tersendiri.
Namun pemerintah memastikan kondisi kali ini berbeda. Telah ada kerja sama resmi dengan Pabrik Gula Sragi Pekalongan yang siap membeli seluruh hasil tebu petani.
“Tebu petani dijamin terbeli. Pabrik gula tidak boleh berhenti beroperasi selama tebu masih ada di lapangan. Bahkan mereka siap mengundur musim giling,” tegas Hafidhah.
Harga tebu juga sudah ditentukan melalui SK Kepala Bapanas, sehingga petani tidak perlu lagi khawatir harga jatuh saat panen raya. Petani dapat memilih pola pembayaran berdasarkan rendemen gula atau menjual tebu langsung dengan harga Rp71 ribu per kwintal dengan rendemen minimal 7 persen.
Realisasi Mulai Tahun Depan
Meski sosialisasi sudah digencarkan, realisasi penanaman tebu diperkirakan baru berjalan tahun depan. Saat ini sebagian besar petani sudah terlanjur menanam singkong, jagung, hingga pepaya.
Meski demikian, respons petani terhadap program ini dinilai sangat positif.
“Petani jelas antusias. Dibandingkan singkong, tebu memang memberi keuntungan lebih besar. Asalkan lahannya lahan kering, bukan sawah,” ujarnya.
Saat ini luas areal tebu di Purbalingga hanya sekitar 153 hektare, jauh menurun dibandingkan lebih dari 1.000 hektare pada tahun 2013 ketika pemerintah menggencarkan program swasembada gula. Kala itu, harga tebu jatuh karena pabrik tidak mampu menyerap panen secara optimal.
“Sekarang kondisinya berbeda. Harga ditentukan pemerintah dan pembelian dijamin. Tidak ada alasan lagi harga tebu turun,” kata Hafidhah.
Ia berharap, meski anggaran baru turun di akhir tahun, petani dapat mulai menanam tebu pada musim tanam tahun depan.
“Sosialisasi sudah dilakukan, PPL juga siap mendampingi. Tinggal pelaksanaan tahun depan ketika petani mulai masa tanam. Semoga berjalan lancar,” pungkasnya.
Harga singkong di tingkat pabrik kini hanya sekitar Rp520 per kilogram, sementara petani menerima sekitar Rp200 per kilogram. Kondisi tersebut mendorong petani mulai mempertimbangkan peralihan ke komoditas baru yang lebih menjanjikan.
Pemerintah pusat pun mendorong pemanfaatan lahan singkong di wilayah-wilayah potensial, terutama di Kecamatan Kejobong dan Pengadegan, untuk ditanami tebu.
Kepala Bidang Prasarana dan Sarana pada Dinas Pertanian Purbalingga, Hafidhah Khusniyati, menyebutkan bahwa potensi lahan yang dapat dialihkan terbilang besar.
“Di Kejobong ada sekitar 569 hektare, dan di Pengadegan sekitar 590 hektare. Itu lahan singkong yang memungkinkan dialihkan ke tebu,” ujarnya.
Bantuan Pemerintah Capai Rp14,5 Juta per Hektare
Program ekstensifikasi tebu ini bukan sekadar imbauan. Pemerintah pusat menyiapkan paket dukungan yang cukup besar, mulai dari bantuan 60 ribu benih mata tunas per hektare hingga bantuan pengolahan lahan sebesar Rp3,6 juta. Total bantuan jika dihitung mencapai sekitar Rp14,5 juta per hektare.
Padahal, kebutuhan biaya produksi tebu per hektare bisa mencapai Rp30 juta. Dengan demikian, beban petani berkurang hampir setengahnya.
Menurut Hafidhah, tahun pertama memang menjadi masa paling berat karena petani harus fokus pada pembibitan dan pengolahan lahan. Namun beban itu menjadi jauh lebih ringan pada tahun-tahun berikutnya.
“Tahun kedua sampai keempat petani tidak perlu membeli bibit lagi, hanya pemupukan dan perawatan. Baru tahun kelima bibit harus diperbarui,” jelasnya.
Harga Dijamin, Pabrik Gula Siap Menampung Hasil Panen
Salah satu kekhawatiran terbesar petani adalah soal harga tebu dan kepastian pembelian. Pengalaman masa lalu ketika pabrik gula tidak mampu menyerap seluruh panen masih menjadi trauma tersendiri.
Namun pemerintah memastikan kondisi kali ini berbeda. Telah ada kerja sama resmi dengan Pabrik Gula Sragi Pekalongan yang siap membeli seluruh hasil tebu petani.
“Tebu petani dijamin terbeli. Pabrik gula tidak boleh berhenti beroperasi selama tebu masih ada di lapangan. Bahkan mereka siap mengundur musim giling,” tegas Hafidhah.
Harga tebu juga sudah ditentukan melalui SK Kepala Bapanas, sehingga petani tidak perlu lagi khawatir harga jatuh saat panen raya. Petani dapat memilih pola pembayaran berdasarkan rendemen gula atau menjual tebu langsung dengan harga Rp71 ribu per kwintal dengan rendemen minimal 7 persen.
Realisasi Mulai Tahun Depan
Meski sosialisasi sudah digencarkan, realisasi penanaman tebu diperkirakan baru berjalan tahun depan. Saat ini sebagian besar petani sudah terlanjur menanam singkong, jagung, hingga pepaya.
Meski demikian, respons petani terhadap program ini dinilai sangat positif.
“Petani jelas antusias. Dibandingkan singkong, tebu memang memberi keuntungan lebih besar. Asalkan lahannya lahan kering, bukan sawah,” ujarnya.
Saat ini luas areal tebu di Purbalingga hanya sekitar 153 hektare, jauh menurun dibandingkan lebih dari 1.000 hektare pada tahun 2013 ketika pemerintah menggencarkan program swasembada gula. Kala itu, harga tebu jatuh karena pabrik tidak mampu menyerap panen secara optimal.
“Sekarang kondisinya berbeda. Harga ditentukan pemerintah dan pembelian dijamin. Tidak ada alasan lagi harga tebu turun,” kata Hafidhah.
Ia berharap, meski anggaran baru turun di akhir tahun, petani dapat mulai menanam tebu pada musim tanam tahun depan.
“Sosialisasi sudah dilakukan, PPL juga siap mendampingi. Tinggal pelaksanaan tahun depan ketika petani mulai masa tanam. Semoga berjalan lancar,” pungkasnya.
sumber https://radarbanyumas.disway.id/purbalingga/read/147444/komoditas-tebu-di-purbalingga-jadi-harapan-baru-saat-harga-singkong-terjun-bebas/15

