google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E
Dorong Gerobak Demi Pulang Kampung, Kisah Haru Pak Edi dan Hangatnya Masjid Ramah Pemudik di Bojongsari google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E -->

Menu Atas

Advertisement

Link Banner

Peta Covid

Dorong Gerobak Demi Pulang Kampung, Kisah Haru Pak Edi dan Hangatnya Masjid Ramah Pemudik di Bojongsari

Rabu, 18 Maret 2026


INFOPBG.COM, Purbalingga - Di tengah hiruk-pikuk arus mudik yang dipadati kendaraan, kisah Pak Edi Rosidi justru mencuri perhatian. Pria asal Cilacap ini menempuh perjalanan panjang menuju Banyumudal, Moga, Kabupaten Pemalang dengan cara sederhana: berjalan kaki sambil mendorong gerobak siomay miliknya.

Perjalanan penuh perjuangan itu membawanya singgah di Masjid Daarunnajaa, Desa Gembong, Kecamatan Bojongsari, Kabupaten Purbalingga, pada Selasa (17/3/2026) pagi. Masjid tersebut menjadi salah satu titik layanan dalam program Masjid Ramah Pemudik yang diinisiasi Kementerian Agama Kabupaten Purbalingga.

Setelah menempuh perjalanan melelahkan sejak sehari sebelumnya, Pak Edi disambut hangat oleh petugas masjid. Tanpa proses yang rumit, ia dipersilakan untuk beristirahat, mandi, hingga mengisi daya ponselnya, semuanya tersedia secara gratis.

“Alhamdulillah, pelayanannya sangat ramah. Saya dipersilakan mandi, istirahat, bahkan bisa ngecas HP. Semuanya lengkap dan gratis,” ujar Pak Edi dengan wajah penuh rasa syukur.

Program Masjid Ramah Pemudik sendiri merupakan bentuk kepedulian Kemenag Purbalingga dalam menghadirkan masjid sebagai tempat singgah yang nyaman bagi para pemudik. Program ini melibatkan kolaborasi antara takmir masjid, Kantor Urusan Agama (KUA), serta berbagai pihak terkait.

Kepala KUA Kecamatan Bojongsari, Mutohir, menjelaskan bahwa Masjid Daarunnajaa telah dipersiapkan secara maksimal untuk melayani para pemudik yang melintas di jalur tersebut.

“Kami menyediakan fasilitas seperti tempat istirahat, kamar mandi bersih, air minum, pengisian daya gawai, hingga ruang ibadah yang nyaman. Harapannya, masjid bisa menjadi tempat bernaung bagi para pemudik,” jelasnya.

Tak hanya itu, dukungan juga datang dari Dinas Perhubungan Purbalingga yang turut membantu kesiapan fasilitas di sejumlah titik masjid ramah pemudik.

Setelah cukup beristirahat dan memulihkan tenaga, Pak Edi kembali melanjutkan perjalanan menuju kampung halamannya. Gerobak yang ia dorong menjadi simbol perjuangan dan tekad kuat untuk berkumpul bersama keluarga di Hari Raya Idulfitri.

Bagi Pak Edi, singgah di Masjid Daarunnajaa bukan sekadar melepas lelah, tetapi juga menjadi sumber semangat baru. Kehangatan pelayanan yang ia rasakan menjadi bukti bahwa masjid tak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi “oase” bagi para pemudik di perjalanan panjang.