google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E
Sejarah Purbalingga dari Sudut Pandang Serdadu Belanda: Kisah Penyergapan di Sinduraja google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E -->

Menu Atas

Advertisement

Link Banner

Peta Covid

Sejarah Purbalingga dari Sudut Pandang Serdadu Belanda: Kisah Penyergapan di Sinduraja

Senin, 24 Agustus 2026


INFOPURBALINGGA - Bagaimana kehidupan Purbalingga saat masa Perang Kemerdekaan dilihat langsung oleh seorang serdadu Belanda?

Pertanyaan itu menjadi salah satu bahasan menarik dalam diskusi yang digelar Komunitas Historia Perwira melalui agenda bedah buku di Kedai Pojok Taman Kota, Jumat malam (21/8/2026).

Buku yang dibedah berjudul De Hinderlaag bij Sindoeradja: Militaire Acties op Java, 1948–1950 atau Penyergapan di Sinduraja, karya Luitenant Hans Gerritsen, seorang perwira Belanda yang pernah bertugas di Purbalingga pada masa Agresi Militer Belanda II.

Bukan Sekadar Cerita Perang

Founder Historia Perwira, Gunanto Eko Saputro, yang menjadi salah satu pemantik diskusi, mengatakan buku tersebut memiliki nilai penting untuk melihat sejarah Purbalingga dari sumber yang berbeda.

Pasalnya, Gerritsen tidak hanya mencatat operasi militer dan pertempuran. Ia juga menggambarkan kehidupan masyarakat Purbalingga pada masa itu.

Mulai dari budaya, tradisi, pakaian, mitos, legenda, hingga kehidupan sehari-hari Wong Braling.

Bahkan, buku tersebut turut menceritakan orang-orang yang bekerja untuk pasukan Belanda, seperti jongos, kuli, dan babu. Ada pula kisah mengenai Landa Ireng, sebutan untuk orang yang bekerja sebagai mata-mata bagi pihak Belanda.

Menariknya lagi, di tengah catatan tentang peperangan, Gerritsen juga menuliskan kekagumannya terhadap alam Purbalingga yang menurutnya begitu indah, bahkan digambarkan seperti surga.

Penyergapan di Sinduraja

Salah satu peristiwa utama dalam buku tersebut adalah kejadian pada Rabu, 30 Maret 1949.

Saat itu, satu peleton pasukan yang dipimpin Gerritsen mengalami penyergapan di Sindoeradja, yang kini dikenal sebagai Desa Sinduraja, Kecamatan Kaligondang, Purbalingga.

Namun, menurut Gunanto, isi buku jauh lebih luas daripada sekadar cerita mengenai penyergapan tersebut.

“Buku itu tak hanya berkisah tentang peristiwa 30 Maret 1949. Letnan Gerritsen juga mencatat Purbalingga pada masa itu yang kita sendiri hampir tidak punya arsip sejarahnya,” ujar Gunanto.
Arsip Belanda Bisa Jadi Potongan Puzzle Sejarah Purbalingga

Pemantik diskusi dari Dinas Arsip dan Perpustakaan Purbalingga, Achmad Sirojudin, menyambut baik kegiatan tersebut.

Menurutnya, buku karya Gerritsen layak dikaji lebih lanjut, termasuk kemungkinan diterjemahkan dan diterbitkan, sehingga dapat menambah referensi mengenai sejarah Purbalingga.

Hal senada disampaikan Afit Susanto. Ia mengaku menemukan sejumlah cerita dalam buku yang memiliki keterkaitan dengan kisah yang selama ini diceritakan oleh generasi terdahulu di keluarganya.

“Banyak peristiwa yang diceritakan mbah-mbah saya tentang Perang Kemerdekaan divalidasi oleh buku ini,” katanya.

Sementara itu, aktivis muda Purbalingga, Kisnandi Bayu, menyoroti minimnya arsip sejarah lokal yang tersedia.

Menurutnya, arsip Belanda justru dapat memberikan banyak informasi mengenai Purbalingga pada masa lalu. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa sumber tersebut tetap perlu dibaca secara kritis karena ditulis dari sudut pandang Belanda.

Jangan Berhenti di Diskusi

Diskusi yang berlangsung hingga tengah malam itu dihadiri puluhan peserta dan berlangsung gayeng.

Namun, para peserta berharap kegiatan tersebut tidak berhenti sebagai forum diskusi semata.

Ada gagasan untuk melanjutkannya melalui penerjemahan dan penerbitan buku, penelitian, kajian sejarah, hingga pengarsipan sejarah lokal Purbalingga.

Sebab, memahami sejarah bukan cuma soal mengingat tanggal dan nama tokoh.

Kadang, kita justru menemukan cerita tentang kampung halaman dari catatan orang yang datang sebagai lawan.

Dan buku Penyergapan di Sinduraja menjadi salah satu pintu untuk melihat kembali wajah Purbalingga pada masa Perang Kemerdekaan dari sudut pandang yang selama ini jarang terdengar.