google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E
Mengenal Lebih Dekat Jendral Besar Soedirman google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E -->

Menu Atas

Advertisement

Link Banner

Peta Covid

Mengenal Lebih Dekat Jendral Besar Soedirman

Jumat, 15 Agustus 2025


INFOPBG.COM, PURBALINGGA -
Jenderal Besar Soedirman merupakan salah satu pahlawan nasional paling dihormati dalam sejarah Indonesia. Namanya begitu lekat, terlebih di Kabupaten Purbalingga, tempat kelahirannya. Di daerah ini, masyarakat mengabadikan perjuangan sang jenderal melalui Monumen Jenderal Soedirman di Kecamatan Rembang serta Tugu Jenderal Soedirman di perempatan kota, karya seniman Azmir Azhari.

Soedirman dikenal sebagai Panglima Besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) pertama sekaligus termuda dalam sejarah republik. Ia menyandang pangkat Jenderal Besar bintang lima, sejajar dengan Soeharto dan A.H. Nasution.

Masa Kecil dan Pendidikan

Lahir di Bodas Karangjati, Kecamatan Rembang, Kabupaten Purbalingga, 24 Januari 1916, Soedirman merupakan putra pasangan Karsid Kartawiraji dan Siyem. Ia diadopsi oleh pamannya, Raden Cokrosunaryo, seorang camat, karena kondisi ekonomi keluarga.

Pendidikan awal ditempuh di HIS (Hollandsch Inlandsche School), lalu pindah ke sekolah Taman Siswa, dan kemudian ke Sekolah Wirotomo setelah Belanda melarang sekolah Taman Siswa. Semasa sekolah, ia dikenal religius dan tekun. Bimbingan Raden Muhammad Kholil membuatnya dijuluki "Haji" karena rajin berdakwah.

Setelah menempuh pendidikan guru di Kweekschool Muhammadiyah, Soedirman mulai mengajar di sekolah dasar Muhammadiyah Cilacap. Di sinilah ia bertemu jodohnya, Alfiah, yang kemudian menjadi istrinya. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai tujuh anak.

Kiprah Awal dan Militer

Selain mengajar, Soedirman aktif dalam organisasi Muhammadiyah, termasuk memimpin Hizbul Wathan (HW). Saat Jepang menduduki Indonesia, ia tetap berusaha mengajar meskipun sekolah Muhammadiyah sempat dialihfungsikan sebagai pos militer.

Tahun 1944, Soedirman bergabung dengan PETA (Pembela Tanah Air) dan lulus pendidikan militer di Bogor. Berkat kepemimpinannya, ia dipercaya menjadi Komandan Batalyon Kroya, lalu menjabat Panglima Divisi V Banyumas setelah Tentara Keamanan Rakyat (TKR) terbentuk.

Panglima Perang

Pada 24 November 1945, dalam usia 29 tahun, Soedirman terpilih sebagai Panglima Besar TKR. Ia memimpin pasukan dalam berbagai pertempuran, salah satunya melawan Inggris di Ambarawa, yang dimenangkan setelah pertempuran sengit pada Desember 1945.

Meski menderita penyakit TBC parah, Soedirman tetap memimpin perang gerilya melawan Belanda selama Agresi Militer II. Dengan ditandu, ia berpindah dari hutan ke hutan, gunung ke gunung, memberi semangat kepada pasukannya agar tetap berjuang mempertahankan kemerdekaan.

Akhir Hayat

Setelah Belanda mengakui kedaulatan Indonesia pada 27 Desember 1949, Soedirman diangkat menjadi Jenderal Besar TNI. Namun, kondisi kesehatannya semakin memburuk. Pada 29 Januari 1950, Jenderal Besar Soedirman wafat di Magelang pada usia 34 tahun.

Pemakaman dilakukan secara militer di Taman Makam Pahlawan Kusumanegara, Yogyakarta, berdampingan dengan Jenderal Urip Sumoharjo. Ribuan rakyat menyemut memberikan penghormatan terakhir kepada sang Panglima Besar yang dinobatkan sebagai Pahlawan Pembela Kemerdekaan.