google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E
Tradisi Menabur Beras Kuning di Indonesia: Makna, Filosofi, dan Kepercayaan yang Masih Dijaga google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E -->

Menu Atas

Advertisement

Link Banner

Peta Covid

Tradisi Menabur Beras Kuning di Indonesia: Makna, Filosofi, dan Kepercayaan yang Masih Dijaga

Minggu, 10 Mei 2026


INFOPBG.COM, VIRAL - Tradisi menabur beras kuning masih menjadi bagian penting dalam berbagai budaya masyarakat Indonesia. Ritual ini tidak hanya hadir dalam acara pernikahan, tetapi juga digunakan dalam prosesi adat, penyambutan, hingga pemakaman. Di sejumlah daerah, beras kuning dipercaya memiliki simbol kemakmuran, keselamatan, dan penghormatan terhadap tradisi leluhur.

Setiap wilayah memiliki makna tersendiri terkait penggunaan beras kuning. Ada yang menganggapnya sebagai simbol doa dan keberkahan, sementara sebagian lainnya mengaitkan tradisi tersebut dengan unsur spiritual dan kepercayaan turun-temurun.

Tradisi Beras Kuning dalam Pernikahan Adat Lampung

Dalam masyarakat Lampung, tradisi menabur beras kuning sering dilakukan saat arak-arakan pengantin pria menuju lokasi akad nikah. Berdasarkan penelitian Rozy Afriansyah dalam jurnal mengenai tradisi tabur beras kuning dan uang koin pada pernikahan adat Lampung, ritual tersebut dilakukan dengan mencampurkan beras kuning bersama uang logam sebelum ditaburkan kepada masyarakat sekitar.

Prosesi ini biasanya berlangsung meriah karena menjadi bagian penting dari rangkaian adat pernikahan. Penaburan beras kuning dan koin dilakukan sepanjang perjalanan arak-arakan sebagai bentuk penghormatan terhadap adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Bagi masyarakat Lampung, tradisi tersebut memiliki makna mendalam. Beras kuning dianggap sebagai simbol kesejahteraan, harapan hidup makmur, serta doa agar rumah tangga pengantin dipenuhi keberuntungan dan kebahagiaan.

Digunakan dalam Prosesi Pemakaman

Tidak hanya dalam pernikahan, tradisi menabur beras kuning juga ditemukan pada ritual kematian di beberapa daerah Indonesia. Salah satunya di Desa Tanjung Keputran, Sumatra Selatan.

Dalam penelitian Dewi Sartika mengenai penggunaan beras kuning pada ritual kematian, disebutkan bahwa beras kuning menjadi bagian dari prosesi pengantaran jenazah menuju pemakaman. Selama perjalanan, masyarakat menaburkan beras kuning sambil melantunkan sholawat.

Tradisi tersebut dipercaya sebagai simbol doa agar keluarga yang ditinggalkan dijauhkan dari musibah dan mara bahaya. Selain itu, ritual ini juga dipandang sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal dunia.

Makna Filosofis Menabur Beras Kuning

Tradisi beras kuning bukan sekadar kebiasaan tanpa arti. Di berbagai daerah, ritual ini menyimpan filosofi dan nilai budaya yang masih dijaga hingga sekarang.

Warna kuning sendiri identik dengan kemuliaan, kemakmuran, dan kebahagiaan. Karena itu, beras kuning sering digunakan dalam momen-momen penting sebagai lambang doa baik bagi seseorang maupun lingkungan sekitar.

Dalam beberapa kepercayaan masyarakat, menabur beras kuning juga dianggap sebagai simbol penyucian diri, penolak bala, hingga bentuk rasa syukur setelah terhindar dari penyakit atau musibah.

Ada pula masyarakat yang percaya bahwa beras kuning memiliki kekuatan simbolik untuk menjaga keselamatan dan menciptakan energi positif di suatu tempat.

Kepercayaan di Berbagai Daerah Indonesia

Makna tradisi menabur beras kuning berbeda-beda di setiap wilayah. Pada masyarakat Dayak Maanyan di Kalimantan misalnya, beras kuning dipercaya dapat memanggil kekuatan roh leluhur untuk memberikan perlindungan dan keberanian.

Sebagian masyarakat bahkan meyakini taburan beras kuning mampu menangkal energi negatif dan membuat musuh merasa takut mendekat. Kepercayaan tersebut sudah diwariskan secara turun-temurun sebagai bagian dari budaya lokal.

Sementara di daerah lain, tradisi ini lebih dimaknai sebagai simbol penghormatan terhadap adat istiadat dan leluhur tanpa dikaitkan dengan unsur magis.

Tradisi yang Tetap Bertahan di Tengah Modernisasi

Di era modern seperti sekarang, tradisi menabur beras kuning masih tetap bertahan di sejumlah daerah Indonesia. Meski sebagian generasi muda mulai jarang memahami makna filosofinya, ritual ini tetap dijaga sebagai identitas budaya dan warisan leluhur.

Banyak masyarakat yang mempertahankan tradisi tersebut karena dianggap mampu mempererat hubungan sosial, menjaga nilai adat, serta menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara.

Perbedaan makna di setiap daerah juga menunjukkan betapa beragamnya budaya Indonesia dalam memaknai simbol dan tradisi yang diwariskan dari generasi ke generasi.