google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E
Pencarian Syafiq Ali di Gunung Slamet Diwarnai Simpang Siur Informasi Saksi google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E -->

Menu Atas

Advertisement

Link Banner

Peta Covid

Pencarian Syafiq Ali di Gunung Slamet Diwarnai Simpang Siur Informasi Saksi

Selasa, 13 Januari 2026


INFOPBG.COM, Purbalingga - Upaya pencarian terhadap Syafiq Ali, remaja yang dilaporkan hilang saat melakukan pendakian di Gunung Slamet, masih terus dilakukan. Namun, proses ini diwarnai kebingungan publik akibat keterangan saksi kunci yang dinilai tidak konsisten dan menimbulkan beragam spekulasi di masyarakat.

Satu-satunya saksi yang selamat, Himawan, yang merupakan rekan pendakian korban, sejak awal menyampaikan bahwa Ali diduga hilang di sekitar Pos 3 hingga Pos 4 jalur pendakian. Berdasarkan informasi tersebut, tim SAR gabungan bersama relawan telah melakukan penyisiran intensif, termasuk di area rawan seperti jurang dan Air Terjun Minger, namun hingga kini belum ditemukan tanda keberadaan korban.

Seiring berjalannya waktu, muncul sejumlah pertanyaan dari masyarakat terkait ketidaksinkronan kronologi yang disampaikan saksi. Salah satunya berkaitan dengan kondisi cedera kaki yang dialami Ali. Informasi yang menyebut korban mengalami cedera, namun masih mampu bergerak cukup jauh, menimbulkan keraguan publik dan mendorong munculnya berbagai tafsir.

Situasi semakin kompleks ketika beredar klaim dari pihak tertentu yang mengaku memiliki kemampuan non-medis dan menunjuk lokasi pencarian berbeda, yakni di kawasan Batu Merah. Informasi tersebut tidak memiliki dasar resmi dan justru memicu spekulasi liar yang berpotensi mengaburkan fokus pencarian di lapangan.

Selain itu, publik juga mempertanyakan mengapa korban yang disebut masih dapat mengakses telepon genggam tidak melakukan komunikasi darurat secara jelas. Kejanggalan lain adalah tidak adanya laporan pertemuan antara korban dengan pendaki lain, padahal jalur pendakian Gunung Slamet saat itu dilaporkan cukup ramai.

Tekanan psikologis terhadap saksi pun meningkat. Sebagian masyarakat mendesak agar keterangan disampaikan secara lebih terbuka dan jujur demi memperjelas arah pencarian. Namun di sisi lain, sejumlah pihak mengimbau agar publik tetap mengedepankan praduga tak bersalah, mengingat saksi kemungkinan mengalami trauma berat akibat kejadian tersebut.

Di tengah berbagai dinamika, proses pencarian tetap berlanjut. Selain SAR, relawan Mapala dan masyarakat umum turut terlibat secara mandiri sebagai bentuk kepedulian kemanusiaan. Pihak keluarga korban berharap pencarian dapat terus dilakukan secara terarah dan bebas dari informasi yang menyesatkan.

Masyarakat diimbau untuk tidak menyebarkan spekulasi yang belum terverifikasi karena dapat menghambat kerja tim pencari serta menambah beban psikologis keluarga korban. Dukungan moral, doa, dan kesabaran bagi seluruh relawan yang terlibat dinilai jauh lebih dibutuhkan dalam situasi ini.