google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E
Saatnya Evaluasi Total: Pola Pertanian Sayur di Lereng Gunung Slamet Perlu Dibahas Ulang google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E -->

Menu Atas

Advertisement

Link Banner

Peta Covid

Saatnya Evaluasi Total: Pola Pertanian Sayur di Lereng Gunung Slamet Perlu Dibahas Ulang

Selasa, 27 Januari 2026



INFOPBG.COM, Purbalingga - Aktivitas pertanian sayur di kawasan lereng Gunung Slamet dinilai perlu segera dievaluasi secara menyeluruh. Sejumlah pihak mendorong para petani untuk meninjau ulang pola tanam yang selama ini diterapkan, khususnya penanaman komoditas sayuran semusim seperti kol, wortel, dan kentang di wilayah dengan tingkat kerawanan tinggi terhadap bencana hidrometeorologi.

Tekanan terhadap lingkungan di kawasan hulu Gunung Slamet disebut telah melampaui daya dukung alam. Pembukaan hutan dan alih fungsi lahan secara masif dalam beberapa tahun terakhir diyakini menjadi salah satu faktor utama meningkatnya kejadian banjir bandang dan banjir lumpur yang kerap melanda wilayah hilir.

Dampak dari degradasi lingkungan tersebut dirasakan langsung oleh masyarakat yang bermukim di kaki Gunung Slamet dan daerah sekitarnya. Kerusakan rumah, lahan pertanian, infrastruktur, hingga ancaman keselamatan jiwa menjadi konsekuensi nyata yang harus ditanggung akibat rusaknya ekosistem di wilayah hulu.

Kondisi ini dipandang sebagai momentum penting untuk mengembalikan fungsi hutan sebagaimana mestinya, yakni sebagai kawasan resapan air dan penyangga ekosistem. Di tengah sorotan terhadap lambannya respons kebijakan dan pengawasan dari pemerintah, muncul dorongan agar masyarakat turut mengambil peran aktif dalam upaya pemulihan lingkungan.

Salah satu langkah konkret yang didorong adalah percepatan revegetasi melalui penanaman pohon keras berakar kuat yang mampu menahan erosi dan meningkatkan daya serap air tanah. Gerakan penggalangan donasi bibit tanaman pun mulai digaungkan sebagai bentuk kepedulian bersama terhadap kelestarian Gunung Slamet.

Upaya penanaman kembali ini diharapkan dapat dilakukan secara cepat dan berkelanjutan, tanpa menunggu mekanisme gotong royong tradisional seperti sambatan, terlebih jika disertai orientasi keuntungan ekonomi jangka pendek. Sejumlah pihak mengingatkan, jika langkah nyata tidak segera diambil, potensi terjadinya bencana serupa bahkan dengan skala yang lebih besar sangat mungkin terulang pada musim hujan mendatang.