INFOOBG.COM, PURBALINGGA - Kalau biasanya catwalk identik dengan outfit kekinian, suasana berbeda terlihat di GOR Sasana Krida Perwira Purbalingga, Kamis (27/8/2026).
Puluhan anak muda tampil percaya diri mengenakan busana adat Banyumasan dalam Lomba Fashion Show Busana Adat yang menjadi bagian dari rangkaian Jambore Pemuda Kabupaten Purbalingga 2026.
Bukan cuma soal siapa yang paling menarik saat berjalan di atas panggung. Para peserta juga ditantang memahami pakaian yang mereka kenakan, mulai dari pakem hingga filosofi di baliknya.
Sebanyak 20 peserta, baik dari instansi maupun perorangan, ikut ambil bagian. Mereka memadukan unsur tradisional dengan sentuhan modern, tetapi tetap berusaha menjaga karakter dan pakem busana adat Banyumasan.
Jadi, bukan sekadar “pakai baju adat lalu catwalk.”
Ada cerita budaya yang harus mereka pahami.
Salah satunya ditunjukkan oleh Lucky Zeniko. Ia tampil mengenakan beskap kucing anjlog dengan motif mawar Banyumasan.
Busana tersebut memiliki filosofi yang menggambarkan sosok pemimpin pria yang berbudi luhur, bertanggung jawab, serta memiliki kematangan jiwa.
Lucky mengaku antusias mengikuti lomba tersebut. Baginya, kegiatan seperti ini bukan hanya menjadi ajang untuk menunjukkan kemampuan, tetapi juga kesempatan memperkenalkan busana adat Banyumasan kepada anak muda.
“Dengan adanya perlombaan peragaan busana, tentunya saya sangat bersemangat serta antusias untuk mengikutinya. Melalui ajang ini saya ingin menyosialisasikan kepada generasi muda untuk mengenali dan menggunakan pakaian adat Banyumasan,” kata Lucky.
Menariknya, peserta tidak berhenti pada urusan penampilan.
Pengetahuan tentang busana juga ikut diuji.
Juri menggali sejauh mana peserta memahami pakaian yang digunakan, termasuk sejarah dan pakemnya.
Salah seorang juri, Koko Tio, mengatakan kreativitas dalam memodifikasi busana memang menjadi bagian penilaian. Namun, peserta tetap harus memahami dasar dan sejarah busana adat Banyumasan.
“Pengetahuan mereka luar biasa, ternyata sedalam itu mereka belajar tentang baju adat, tetapi masih ada beberapa yang kurang pengetahuan baju adatnya,” ujar Koko.
Menurut Koko, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk kembali mendekatkan budaya lokal kepada generasi muda.
Sebab, mengenal budaya tidak harus selalu lewat buku atau pelajaran di kelas.
Bisa lewat fashion. Bisa lewat panggung. Bisa juga lewat hal yang dekat dengan kehidupan anak muda.
Lomba Fashion Show Busana Adat dalam Jambore Pemuda Kabupaten Purbalingga 2026 akhirnya tidak hanya menjadi ajang mencari penampilan terbaik.
Lebih dari itu, kegiatan ini mempertemukan gaya anak muda dengan identitas budaya Banyumasan.
Di tengah tren fashion yang terus berubah, ada satu hal yang menarik untuk dipertahankan:
budaya sendiri jangan sampai cuma jadi sesuatu yang kita lihat di museum atau foto lama.
Kalau generasi mudanya mau mengenal, memakai, dan menceritakannya kembali dengan cara mereka sendiri, busana Banyumasan masih punya tempat di zaman sekarang.

