Dok. Tribun Jateng
INFOPBG.COM, Purbalingga - Kiprah anak muda Indonesia di dunia keamanan siber kembali mencuri perhatian. Seorang pemuda asal Desa Tunjung Muli, Kecamatan Karangmoncol, Kabupaten Purbalingga, berhasil menorehkan prestasi internasional dengan masuk Hall of Fame NASA berkat temuannya di bidang keamanan sistem digital.
Pemuda tersebut adalah Aan Rehan (18), lulusan SMK Mutu Tunjung Muli jurusan agribisnis. Meski tidak memiliki latar belakang pendidikan teknologi informasi secara formal, Rehan dikenal aktif sebagai bug hunter atau pencari celah keamanan sistem secara etis.
Prestasi tersebut menjadikannya salah satu talenta muda Indonesia yang diperhitungkan di ranah keamanan siber global.
Ketertarikan Siber Berawal dari Rasa Penasaran
Ketertarikan Rehan pada dunia siber tumbuh sejak masih duduk di bangku SMK. Awalnya, ia hanya gemar membaca berita seputar kebocoran data dan isu peretasan yang ramai di media sosial. Rasa penasaran itu semakin besar ketika kasus kebocoran data besar di Indonesia mencuat pada 2022.
“Awalnya cuma ngikutin beritanya. Lama-lama penasaran, kok bisa sistem sebesar itu bocor,” ujar Rehan saat diwawancarai.
Dari rasa ingin tahu tersebut, Rehan mulai belajar secara otodidak melalui internet dan YouTube. Ia mempelajari dasar-dasar pencarian celah keamanan, mulai dari pemetaan aset website, ekstraksi tautan, hingga identifikasi data sensitif yang terbuka ke publik.
Belajar Mandiri Bermodal Ponsel
Menariknya, hampir seluruh proses belajar dan aktivitas bug hunting dilakukan Rehan hanya dengan ponsel. Saat itu, ia belum memiliki laptop dan hanya mengandalkan perangkat sederhana dengan spesifikasi terbatas.
Setelah sekitar enam bulan belajar intensif, Rehan mulai mempraktikkan ilmunya. Hasilnya, ia menemukan sejumlah dokumen digital berisi data pribadi seperti NIK, KK, nomor telepon, dan nama lengkap yang dapat diakses secara bebas di situs instansi publik.
Alih-alih menyalahgunakan temuan tersebut, Rehan memilih jalur bug hunting etis.
Pilih Jalur Etis, Laporkan ke Instansi Resmi
Setiap temuan celah keamanan, Rehan laporkan melalui jalur resmi, seperti CSIRT, Diskominfo daerah, hingga Badan Siber dan Sandi Negara (BSSN).
Salah satu temuan pertamanya terjadi pada situs milik Pemerintah Kabupaten Mesuji, Lampung, berupa celah SQL Injection yang memungkinkan akses ke basis data dan dashboard administrator.
“Langsung saya laporkan, dan alhamdulillah cepat ditindaklanjuti,” kata Rehan.
Atas laporan tersebut, ia menerima sertifikat apresiasi dari instansi terkait. Pengalaman itu menjadi motivasi besar baginya untuk terus mendalami dunia keamanan siber.
Temukan Ribuan Data Warga Bocor di Purbalingga
Rehan juga pernah menemukan kebocoran sekitar 1.000 data warga di salah satu kecamatan di Kabupaten Purbalingga. Data tersebut mencakup identitas sensitif warga.
Temuan itu segera dilaporkan dan langsung ditangani oleh pihak berwenang. Menurut Rehan, masih banyak sistem digital pemerintah yang rentan akibat minimnya pembaruan dan pengelolaan keamanan.
Koleksi Puluhan Sertifikat, Nama Tercatat di NASA
Hingga awal 2026, Rehan telah mengantongi sekitar 25 sertifikat dan surat apresiasi dari berbagai lembaga, mulai dari pemerintah daerah, universitas, media nasional, hingga institusi internasional.
Beberapa di antaranya berasal dari DKI Jakarta, Kalimantan Tengah, Yogyakarta, Magelang, Cimahi, Universitas Airlangga, Detik.com, hingga NASA.
Melalui program Vulnerability Disclosure Program (VDP), NASA memberikan pengakuan resmi dengan mencantumkan nama Rehan dalam Hall of Fame sebagai bug hunter yang berkontribusi meningkatkan keamanan sistem mereka.
“Nama saya dipajang di website NASA bersama bug hunter dari berbagai negara,” ungkapnya.
Dapat Penghasilan dari Bug Hunting Global
Selain sertifikat, Rehan juga memperoleh penghasilan dari program bug bounty internasional. Salah satu bayaran pertamanya mencapai 300 dolar AS atau sekitar Rp5 juta, meski berasal dari temuan dengan tingkat kerentanan rendah.
“Di Indonesia masih jarang yang memberikan reward uang. Kebanyakan justru dari luar negeri,” jelasnya.
Meski demikian, Rehan menegaskan bahwa motivasi utamanya bukan semata soal uang, melainkan kontribusi terhadap keamanan digital.
Dukungan Orang Tua Jadi Kunci
Kesuksesan Rehan tidak lepas dari dukungan orang tua. Ayahnya bekerja sebagai kuli bangunan, sementara ibunya adalah ibu rumah tangga. Meski sederhana, keduanya memberikan dukungan penuh, termasuk membelikan ponsel baru agar Rehan bisa terus belajar.
“Dulu HP saya RAM 3 GB, sekarang sudah upgrade. Dibeliin orang tua supaya bisa lanjut bug hunting,” tuturnya.
Mimpi Jadi Polisi Siber Indonesia
Saat ini, Rehan menjalani masa gap year sembari membantu orang tua dan terus mengasah kemampuan di dunia keamanan siber. Ia bercita-cita melanjutkan kuliah di bidang Teknik Informatika dan bermimpi menjadi bagian dari polisi siber Indonesia.
“Saya ingin terus berkontribusi untuk negara. Keamanan siber di Indonesia masih perlu banyak pembenahan,” pungkasnya.
sumber https://jateng.tribunnews.com/jawa-tengah/1239292/sosok-aan-rehan-pemuda-asal-purbalingga-jadi-bug-hunter-hingga-diapresiasi-nasa?page=all

