google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E
Bukan Kelapa Biasa, Inilah Kelapa Janggi Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon yang Berusia Ratusan Tahun google-site-verification=YyoQycYeX1oqBXs24tjZgisdL-bsneSSAuvFyVbld3E -->

Menu Atas

Advertisement

Link Banner

Peta Covid

Bukan Kelapa Biasa, Inilah Kelapa Janggi Pusaka Keraton Kasepuhan Cirebon yang Berusia Ratusan Tahun

Selasa, 12 Mei 2026

Dok Facebook.com/Gunanto Eko Saputro

INFOPBG.COM, UPDATE - Di antara deretan benda bersejarah di Keraton Kasepuhan Cirebon, ada satu pusaka unik yang selalu menarik perhatian pengunjung museum: Kelapa Janggi.

Bentuknya tak seperti kelapa pada umumnya. Sekilas, buah langka ini menyerupai paru-paru manusia. Karena keunikannya itulah, Kelapa Janggi dipercaya memiliki khasiat khusus dan sejak lama dijadikan pusaka keluarga kerajaan Cirebon.

Tak heran jika benda ini ditempatkan di posisi paling mencolok di museum keraton. Letaknya berada dekat pintu masuk dan hampir selalu menjadi salah satu objek utama yang dijelaskan oleh pemandu wisata kepada para pengunjung.

Legenda Kelapa Janggi dari Perjalanan Pangeran Cakrabuana

Menurut kisah yang berkembang di lingkungan keraton, Kelapa Janggi ditemukan oleh Pangeran Cakrabuana atau Pangeran Walangsungsang saat melakukan perjalanan haji sekitar tahun 1390.

Kala itu, perjalanan menuju Tanah Suci masih ditempuh melalui jalur laut. Dalam perjalanan tersebut, rombongan singgah di kawasan Teluk Aden, Yaman. Di sanalah sang pangeran disebut menemukan kelapa unik yang kemudian dibawa pulang ke Cirebon.

Pangeran Cakrabuana sendiri dikenal sebagai putra Prabu Siliwangi yang memiliki peran penting dalam penyebaran Islam di tanah Cirebon sekaligus menjadi pendiri kerajaan di wilayah tersebut.

Ternyata Kelapa Janggi Benar-Benar Ada

Menariknya, Kelapa Janggi bukan sekadar legenda. Buah unik ini memang nyata dan dikenal dunia dengan nama Coco de Mer atau Kelapa Laut.

Nama ilmiahnya adalah Lodoicea maldivica, tanaman langka yang hanya tumbuh alami di kawasan Vallée de Mai, Kepulauan Seychelles, Afrika Timur.

Buah ini sejak lama dipercaya memiliki manfaat pengobatan dan sering dianggap sebagai simbol kemakmuran serta keberuntungan di berbagai budaya.

Jika benar Kelapa Janggi di Keraton Kasepuhan berasal dari masa Pangeran Cakrabuana, usianya diperkirakan sudah mencapai lebih dari enam abad.

Bayangkan perjalanan panjangnya: tumbuh di Kepulauan Seychelles, terbawa arus laut hingga Teluk Aden, lalu dibawa menyeberangi samudra sampai akhirnya tersimpan sebagai pusaka bersejarah di Cirebon.

Daya Tarik Wisata Sejarah dan Misteri

Keberadaan Kelapa Janggi menjadi salah satu alasan mengapa museum di Keraton Kasepuhan selalu menarik dikunjungi. Bukan hanya karena bentuknya yang langka, tetapi juga karena cerita sejarah, perjalanan lintas samudra, hingga unsur mistis yang melekat pada benda tersebut.

Bagi pecinta sejarah dan budaya Nusantara, Kelapa Janggi adalah bukti bahwa Cirebon sejak masa lampau telah terhubung dengan jalur perdagangan dan pelayaran dunia.